Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama dua kawan pensiunan di taman kompleks. Pak Haris, mantan guru, baru beli konsol game bekas. Sementara Bu Tuti, mantan pegawai bank, lebih milih main game di HP saja. Dua-duanya bilang hobinya seru. Tapi waktu saya tanya lebih dalam, ternyata pilihan mereka punya konsekuensi yang beda banget. Nah, kalau kamu pensiunan yang lagi bingung mau mulai dari mana, cerita mereka ini mungkin bisa jadi bahan pertimbangan.
Pak Haris dan Konsol: Layar Besar, Rasa Muda Lagi
Pak Haris cerita kalau dia beli konsol karena ingat masa mudanya dulu sering main di rental. "Rasanya kayak balik ke tahun 90-an," katanya sambil ketawa. Dia main game balap dan petualangan, biasanya sore setelah jalan pagi. Layarnya besar, jadi matanya nggak terlalu capek.
Baca juga: Gimana Caranya Main Game Bareng Anak Tanpa Ribut Seharian?
Tapi ada ribetnya juga. Konsol butuh TV yang layak, colokan, dan stik yang kadang bikin tangan pegal kalau kelamaan. Belum lagi kalau mau beli game baru, harganya lumayan. Pak Haris bilang dia cuma beli game bekas atau diskon, jadi nggak boros. "Yang penting sabar aja nyarinya," ujarnya.
Satu hal yang saya perhatikan: Pak Haris jadi lebih sering di rumah dan jarang ikut kumpul arisan. Bukan karena anti-sosial, tapi karena keasyikan. Istrinya sempat komplain, tapi sekarang malah ikut nonton sambil nyemil.
Bu Tuti dan HP: Praktis, Tapi Bikin Mata Perih
Bu Tuti beda cerita. Dia nggak mau ribet pasang-pasang kabel. HP-nya sudah ada, tinggal unduh game puzzle dan kartu. "Sambil rebahan juga bisa," katanya. Bu Tuti biasanya main sambil nunggu cucu pulang sekolah atau sore hari.
Masalahnya, layar HP kecil. Bu Tuti sempat mengeluh matanya cepat lelah, apalagi kalau main lama. Dia juga sempat kena iklan yang nyasar dan bikin bingung. "Awalnya kesel, tapi lama-lama paham mana yang harus di-skip," ujarnya sambil tersenyum.
Kelebihan HP menurut Bu Tuti: dia bisa main di mana saja, termasuk saat antre di puskesmas atau di angkutan umum. Game-nya juga banyak yang gratis. Tapi dia akui, kadang notifikasi bikin dia tergoda buka terus, sampai lupa waktu.
Yang Sering Bikin Salah Paham
Banyak pensiunan mengira konsol itu cuma buat anak muda, dan HP cuma buat chatting. Padahal dua-duanya bisa dipakai main game dengan nyaman, asal tahu batasannya. Saya sendiri sempat mikir konsol itu mahal dan rumit. Ternyata ada konsol bekas yang harganya masuk kantong, dan setup-nya nggak seseram yang dibayangkan.
"Yang penting bukan alatnya, tapi kamu nyaman pakai yang mana." — kata Pak Haris suatu sore.
Enaknya Gimana Kalau Mau Mulai?
Kalau kamu tipe yang suka suasana "nonton bareng" dan nggak keberatan belajar sedikit soal kabel dan stik, konsol bisa jadi pilihan. Apalagi kalau di rumah ada TV besar yang jarang dipakai. Tapi siap-siap saja sama harga game dan ruang penyimpanan.
Kalau kamu lebih suka fleksibel, ringan, dan nggak mau nambah barang di rumah, HP sudah cukup. Pilih game yang sederhana, matikan notifikasi yang nggak perlu, dan atur waktu main supaya mata nggak capek. Bu Tuti sarannya: "Main 30 menit, terus istirahat. Jangan kayak saya awal-awal, main sampai lupa minum."
Saya pribadi condong ke HP karena praktis, tapi saya ngerti kenapa Pak Haris betah sama konsolnya. Dua-duanya sah-sah saja. Yang penting kamu nggak merasa dipaksa ikut tren, dan tetap ingat urusan lain di rumah.
Hal Kecil yang Sering Dilupakan
Baik konsol maupun HP, dua-duanya butuh istirahat mata dan jangan sampai mengganggu tidur. Pak Haris sekarang memasang alarm supaya nggak main lewat jam sembilan malam. Bu Tuti memilih main sore saja, karena kalau malam matanya cepat perih.
Selain itu, jangan ragu minta tolong anak atau cucu kalau bingung. Pak Haris sempat minta cucunya bantu pasang konsol. Bu Tuti minta anaknya bantu matikan iklan yang mengganggu. Nggak ada yang perlu gengsi.
Intinya, pilihan konsol atau HP itu soal kenyamanan kamu sendiri. Nggak ada yang lebih keren atau lebih ketinggalan zaman. Yang penting kamu menikmati waktunya, tetap sehat, dan nggak lupa senyum sama keluarga di rumah.